IDEALISME VS PRAGMATISME

Spread the love

Kurang dari 24 jam lagi kita semua akan diberi kesempatan untuk menentukan arah bangsa kita dengan menempatkan orang-orang yang kita percaya dan kita yakini akan mampu menyalurkan aspirasi kita di masa yang akan datang, tentu bukan aspirasi pribadi yang mungkin penuh dengan untung rugi personal tapi aspirasi yang didukung dan menguntungkan sebanyak mungkin orang, mulai dari lingkungan terkecil kita di dalam keluarga  hingga masyarakat luas.

Perhelatan lima tahunan ini tentu menjadi kesempatan bagi mereka yang ingin mendedikasikan baik ilmu ataupun pengalamannya selama ini yang mereka yakini hanya dengan menjadi wakil kita di Legislatif mereka akan mampu lebih jelas dan tegas serta punya hak suara untuk menyuarakan dan ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan aspirasi konstituen mereka.

Bagi kita sebagai pemilih tentu perhelatan lima tahunan ini memberi kesempatan bagi kita untuk memilih dan memilah yang mana saja dari calon yang ada saat ini yang benar benar bergerak untuk kepentingan orang banyak bukan sekedar kepentingannya sendiri atau kelompok kecilnya saja.

Ada 3 hal yang bisa kita pakai sebagai acuan didalam menentukan pilihan kita besok :
1. Apa dedikasi mereka di masyarakat selama ini.
2. Bagaimana janji yang mereka sampaikan, realistis atau bombastis.
3. Rekam jejak dari apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan serta tidak tersangkut masalah hukum.

Dalam rentang waktu kurang dari 24 jam ini tentu tidak ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh calon legislatif ataupun calon presiden untuk mendulang suara lebih banyak lagi, karena seperti tanaman, proses pertumbuhan yang secara generik/ alami tentu memerlukan proses dan waktu untuk menumbuhkan engagement/keterikatan antara si calon legislatif atau capres dengan konstituennya.

Tapi dari sisa waktu yang ada ini sering kali kita dihadapkan pada hal-hal pragmatis yang menguji integritas kita didalam menentukan pilihan kita didalam bilik suara nanti, adanya “serangan fajar” yang sudah menjadi rahasia umum yang sering dilakukan oleh paslon atau caleg yang mungkin tidak pede dengan apa yang dilakukannya selama ini atau mungkin bisa jadi hal itu merupakan langkah antisipasi mereka untuk membentengi konstituen mereka yang sudah mereka bina selama ini agar tidak pindah ke yang lain.

Saya pribadi dari lima surat suara yang harus saya coblos nanti ada beberapa yang masih ada keraguan yang mana harus dipilih, saya pribadi untuk Presiden dan DPD sudah memiliki calon yang sudah pasti saya pilih karena sejak jauh-jauh hari saya memang mengidolakannya yang pasti hal itu karena apa yang mereka lakukan saya lihat benar-benar untuk kepentingan masyarakat, walau saya sendiri belum pernah secara langsung bertemu bertatap muka dan saya sendiri pun tidak pernah merasakan keuntungan secara pribadi dari mereka, tapi ada engagement/keterikatan yang saya rasakan dari apa yang mereka lakukan terhadap rakyat atau masyarakat selama ini.

Didalam menjadi seorang pengusaha pilihan-pilihan idealis dan pragmatis ini juga sering menghinggapi kita didalam keseharian kita, yang mana seseorang yang menerapkan nilai-nilai dan budaya integritas di perusahaannya yang kalau benar-benar diterapkan secara idealis akan menemui banyak hal yang akan mengurangi nilai-nilai integritasnya itu. Sehingga mau tidak mau kita sebagai pengusaha dihadapkan pada situasi dilema untuk tetap idealis atau bersikap pragmatis akan hal ini.

Dalam hal pemilu orang orang yang IDEALIS baik itu mereka sebagai calon legislatif atau kita sebagai pemilih tentu sangat menjaga integritas mereka dengan tidak melakukan hal hal yang diluar ketentuan yang sudah digariskan, tapi tentu selain itu tetap ada juga orang-orang yang bersikap PRAGMATIS yang akan memberikan pilihannya ke caleg yang memberikan bantuan langsung tunai (kalau tidak mau dibilang serangan fajar he he he)

Apapun pilihan kita, entah itu bersikap IDEALIS dengan menolak memilih caleg-caleg tidak ber integritas ataupun kita bersikap PRAGMATIS yang hanya memikirkan kepentingan kita pribadi dengan menerima bantuan langsung tunai yang mereka berikan walau nilainya itu relatif tidak sebrapa sebenarnya buat kita dibanding dengan masa waktu mereka menjadi anggota dewan atau presiden nantinya.

Menjadi IDEALIS atau PRAGMATIS adalah HAK setiap orang, sama halnya hak anda semua yang sudah memiliki hak pilih untuk datang ke TPS besok tanpa ada orang yang bisa menghalanginya.

Dari kedua pilihan sikap diatas ada satu Quote yang menarik mengenai idelisme dari Tan Malaka berikut ini :

” IDEALISME ADALAH KEMEWAHAN TERAKHIR YANG HANYA DIMILIKI OLEH PEMUDA”

Ayoo pemuda tentukan pilihanmu…..INGAT JANGAN GOLPUT.

Majulah Indonesiaku…Jayalah Bangsaku!!!


Spread the love