Adaptive in 4.0 Era

Sebagai pelaku usaha di industri retail penjualan produk Smartphone yang sudah menekuni bisnis ini sejak 18th yang lalu ada banyak hal yang saya perhatikan berkaitan dengan perkembangan di bisnis yang saya tekuni ini baik secara teknologi maupun strategi bisnis yang dilakukan oleh masing masing brand yang ada di dunia, yang mana saat ini pangsa pasar dari smartphone yang beredar dipasaran dominan dikuasai oleh brand korea dan china.

Di era awal perkembangan handphone, nama-nama seperti Nokia, Ericsson, Motorola merupakan brand-brand yang sangat disegani dan mendominasi pasar Handphone saat itu, seiring berkembangnya jaman dan persaingan di teknologi Handphone semakin berkembang, yang mana titik balik perkembangan smartphone itu sendiri di awali dengan kemunculan Smartphone Apple layar sentuh di awal tahun 2007 (Kompas) yang mana dengan kehadiran seri iphone pertama ini mampu merubah peta persaingan brand handphone sampai saat ini yang mana didominasi oleh brand Samsung, Iphone, OPPO, Xiaomi dll

Dari masuknya brand OPPO sebagai brand baru di pasar indonesia  pada bulan April 2013, saat itu OPPO smartphone memperkenalkan diri di Indonesia dengan produknya OPPO Find 5 dan kami saat itu merupak salah satu pelaku retail yang dipercaya memasarkan pertama kali Brand OPPO untuk kawasan bali timur, yang mana saat itu banyak dari pelau bisnis retail Handphone yang sudah antipati dengan brand-brand china karena selain dari segi produk yang cepat rusak dari segi profit pun terjadi perang harga antar brand dan antar toko retail itu sendiri, dan sayapun saat itu ketika mendapat ajakan dari seorang sahabat saya sesama pelaku bisnis retail, awalnya menolak ajakan untuk bergabung menjual brand ini. Rasa ragu diawal kemunculan brand yang rada aneh ditelinga orang indonesia karena namanya yang rada bahasa jawa, yaitu OPPO dan bahkan ketika produk itu sudah ada di toko pun orang orang banyak yang meledek nama brand tersebut, tapi dengan strategi yang berbeda dan konsistensi menerapkan aturan yang mereka buat akhirnya kita melihat brand oppo ini lumayan mendapat tempat dihati masyarakat indonesia, salah satu hal yang membuat brand OPPO mampu menyeruak diantara kerumunan brand-brand lain yang sudah mapan sebelumnya saya perhatihan ada 2 hal yaitu:
1. Produk yang berkwalitas dan up to date yang dibuktikan dengan sedikit atau jarangnya produk rusak(keuntungan buat konsumen)
2. Adanya jaminan kepastian keuntungan untuk penjual.
Dua sisi ini yaitu sisi konsumen sebagai pemakai akhir sebuah produk dan  sisi penjual sebagai kepanjangan tangan principle sebagai jalur distribusi barang tersebut sampai ke konsumen menjadi perhatian dari pihak OPPO, hal itu lah yang saya lihat kenapa brand ini bisa mampu bersaing dengan brand lain yang lebih dulu masuk di indonesia.

Kita beralih ke brand xiaomi, yang mana brand ini lumayan unik saya lihat, dimana strateginya lumayan terbalik dari apa yang dilakukan oleh Steve Jobs disaat kembalinya dia ke perusahaannya Apple, yang mana perlu anda ketauhi Steve Jobs sendiri sebenarnya pernah terdepak dari kursi perusahaannya sendiri dan kemudian membesarkan perusahaan animasi Pixar, sekembalinya dia ke perusahaan lamanya yaitu apple dia menggunakan strategi focus terhadap sedikit produk dibanding strategi yang dilakukan oleh CEO apple pendahulunya, tapi xiaomi melakukan strategi terbalik dengan membuat atau memasarkan begitu banyak produk baik itu smartphone ataupun produk lain seperti televisi, jam tangan, kamera dan bahkan produk yang jauh dari produk utama mereka seperti misalnya tas atau bahkan kunci laci meja. untuk smartphonenya sendiri ada strategi yang menonjol yang mereka gunakan yaitu menjual produknya melalui online dengan perbedaan harga yang cukup menarik diawal produk diluncurkan, sehingga dari sini membuat customer tertarik untuk terus menunggu produk-produk terbaru dari xiaomi, hingga akhirnya setiap kali peluncuran produk xiaomi MiFans sebutan untuk penggemar Smartphone xiaomi yang kebanyakan anak millenial sudah tidak sabar menunggu produk itu ada di toko fisik bukan online.

Samsung sebagai brand yang sudah cukup mapan melewati masa-masa naik turunnya perkembangan penjualan Handphone mulai dari jaman HP Pholifonic dulu yang suara nyaringnya cukup khas hingga saat ini jaman HP android, yang saya perhatikan saat ini Samsung berani mengikuti strategi brand lain seperti apa yang dilakukan oleh OPPO, Xiaomi dan brand china lainnya, yang mana salah satu strateginya mereka mulai menggelontorkan banyak type baru dengan spesifikasi dan harga yang sangat bersaing dengan dua merk yang saya sebutkan tadi, bahkan saat ini samsung ikut menggunakan strategi Xiaomi dengan melakukan Flash Sale di situs eccomerce, dan untuk mendukung strategi ini mereka bahkan mengeluarkan khusus produk yang hanya dipasarkan lewat eccomerce dengan harga yang sangat kompetitif, saya perhatikan mungkin mereka berkaca pada brand-brand yang dulu sempat mendominsai di eranya tapi karena kurang adaftif terhadap perubahan bisnis hingga akhirnya mereka lenyap dilumat oleh brand lain yang lebih lincah, seperti Nokia yang bersikukuh dengan symbian dan OS Microsoft yang tidak banyak dipakai karena brand lain lebih condong menggunakan Android yang mendominasi saat ini.

Tapi apapun itu dalam pengelolaan sebuah bisnis keputusan tetaplah harus diambil dan pastinya sebelum keputusan itu diambil akan banyak perdebatan yang akan muncul kenapa hal itu sampai diputuskan, dan kita hanya bisa melihat hasil setelah keputusan itu diambil, ketika keputusan menghasilkan hasil yang bagus dan membuat sebuah brand naik, kita mengancungkan jempol seraya mengatakan CEO perusahaan itu tepat mengambil keputusan apalagi biasanya kita tambahkan faktor Luck, atau malah sebaliknya ketika kita menyaksikan hasil yang negatif dari sebuah keputusan bisnis kita bergumam atau malah menghakimi kenapa bukan keputusan B yang terbukti saat ini bagus itu yang diambil, padahal siapapun tau saat keputusan itu diambil siapapun tidak akan ada yang tau apakah keputusan itu akan menuai hasil positif atau malah sebaliknya.

Di era industri 4.0 ini kami yang bergerak di bisnis retailpun mengalami banyak tantangan sama halnya dengan brand-brand yang memproduksi smartphone tersebut yang sedemikian ketatnya bersaing dalam mengeluarkan produk produk barunya, persaingan sangat ketat baik dalam hal harga maupun pelayanan, yang mana masing masing brand mesti mencermat berhitung saat mengeluarkan produk produk unggulan mereka mulai dari spesifikasi, dan harga jual yang akan dibayarkan oleh customer mereka dan tidak lupa juga mereka harus selalu memperhatikan besaran profit margin dari saluran distribusi yang akan menjual produk mereka, karena bagaimanapun bagusnya sebuah produk dan dicari oleh customer, ketika saluran distribusi merasa tidak mendapatkan keuntungan yang layak dari menjual produk sebuah brand maka mereka tidak akan bergairah untuk menawarkan produk dari brand tersebut.

Di era 4.0 ini yang mana saluran pemasaran bukan hanya seperti biasanya dilakukan dengan mendatangi toko fisik yang mejual produk yang customer inginkan, tapi di era ini customer bisa dengan mudah memiliki smartphone idamannya dari genggaman tangan dengan berbelanja di ecommerce dan metode pembayarnya juga sangat mudah mulai dari kartu kredit, trnasfer bank atau hanya dengan mendatangi minimarket berjejaringan yang ada didekat rumah. Walau masih banyak juga entri barrier bagi customer untuk berbelanja lewat online yang masih bisa menjadi celah keuntungan buat toko offline untuk tetap menjaga eksistensi mereka, adapun hambatan online itu sendiri seperti misalnya keinginan customer untuk berinteraksi secara tatap muka dengan penjualnya, atau bahkan mereka ingin mencoba terlebih dahulu produk yang mereka inginkan yang hanya merea dapatkan di toko offline, hal yang lain yang lebih krusial malah adanya kekhawatiran susahnya untuk klaim garansi produk jika dibeli lewat online. Tapi dengan keberadaan situs ecommerce di era 4.0 ini tentu saja mau tidak mau akan menggerus kue penjualan dari toko retail traditional.

Setiap era selalu akan memberi peluang dan tantangan baru bagi setiap pelaku bisnis, saya yang dilahirkan dari keluarga seorang pengusaha meyakini tantangan-tantangan seperti ini adalah hal yang pasti akan selalu harus mereka lewati, yang diperlukan hanyalah kita perlu adaptive menghadapi setiap era oleh karena itulah diperlukan keluwesan dan kebijaksanaan menyikapi perubahan era itu sendiri, setiap tantangan pasti menimbulkan peluang dan disinilah tantangan seorang entrepreneur sejati untuk menemukan solusi dari setiap tantangan yang dihadapinya, karena saya yakin jiwa seorang entrepreneur sejati adalah jiwa penemu solusi dari tantangan-tantangan dari setiap usaha yang mereka tekuni, sama halnya seperti seorang peselancar mereka selalu bergairah menyambut datangnya gelombang karena dari sana mereka akan semakin diuji dan diasah kemampuannya didalam berselancar didalam gelombang itu sendiri. Dan sama halnya seperti ombak itu sendiri tidak selamanya ombaknya besar dan si peslancar bisa berada diatasnya, pada saatnya ketepian ombaknyapun surut dan si peselancar harus menunggu datangnya ombak berikutnya untuk bermain lagi di atasnya.

Saya selalu ingat apa yang dikatakan oleh Nadiem Makarim sang pendiri Gojek ,

“Kesalahan utama kebanyakan entrepreneus itu adalah, mereka mengira ketika mereka naik mereka bakal naik terus, dan ketika bisnisnya turun mereka kira bakalan turun terus”

seperti sebuah gelombang

“Whats come up must come down, what come down will come back up”

Selalu jaga OPTIMISME…Selamat berselancar di era 4.0.

Menggeliatnya Brand-brand Generasi millenial

OPPO, Xiaomi, CooCaa, Wuling mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan brand-brand tersebut. Walaupun tergolong baru di benak kita dibanding Brand Motorola, Sony untuk Smartphone, LG atau Toshiba di merk TV atau Ford, KIA di merk mobil.

Brand-brand yang menggeliat dan mampu menerobos maju diantara brand-brand yang sudah mapan seperti yang saya sebutkan beberapa diatas tentu menjadi perhatian kita kenapa pemain-pemain yang tergolong baru tersebut dibanding dengan brand yang lebih dulu kita kenal bisa mendominasi?

Apa kelebihan Brand baru ini? Apakah produk OPPO atau Xiaomi lebih hebat dari Sony atau Motorola? Apakah mobil wulling lebih nyaman dari Ford atau mungkin KIA/Hyundai yang secara penjualan kalau kita lihat data Gaikindo angka penjualan wulling bahkan bisa masuk 10 besar Brand Mobil terlaris sepanjang 2018. (https://m.detik.com/oto/oto-galeri/d-4392293/merek-mobil-terlaris-indonesia-selama-2018/6/#photos)

Merk CooCaa juga belakangan mencuri perhatian kita dengan geliatnya mengadakan FlashSale di situs eccomerce, kenapa Toshiba misalnya sebagai Brand elektronik yang sudah lama menjual produk TV tidak mencoba mengimbanginya dengan melakukan hal yang sama?Tentu ada banyak faktor dan faktor itu hanya mereka sendiri yang bisa mengetauhi, menganalisa hambatan, kendala yang mereka hadapi sehingga mereka saat ini tidak mampu mengimbangi “lincahnya” brand-brand baru didalam menarik customer agar mau berpaling ke brand yang mereka miliki.

Demikian halnya dalam bisnis, seringkali kita menemui ada perusahaan yang menggeliat dan mendobrak lebih menonjol diantara perusahaan sejenis yang ada, tentu kita sesekali mencoba menganalisa dari sudut pandang kita sendiri, yang tentu detailnya hanya perusahaan yang kita coba analisa itu sendirilah yang tau keunggulan atau bahkan permasalahan yang mereka hadapi yang mungkin saja perusahaan lain bisa saja menghadapi masalah yang sama tapi mereka mampu keluar, menemukan solusi, dari kendala atau masalah yang mereka hadapi.

Seperti apa yang dikatakan oleh Enstein :

“Masalah tidak dapat dipecahkan dengan kecerdasan yang sama dengan yang digunakan untuk menciptakannya”

Mari kita sama sama untuk menemukan kecerdasan baru, untuk mampu memecahkan masalah yang kita hadapi masing-masing.